OR [rank_math_breadcrumb]

The Batman: Rumor Sosial yang Dibungkus dalam Film Terkenal

  • 4 min read
  • Apr 10, 2022

PENGGEMAR watak superhero DC comics tentu tidak asing dengan watak Batman, figur fiksi superhero berjubah kelelawar penghilang kejahatan dari kota Gotham.

Semenjak awalnya keberadaannya di Detective Comics di tahun 1939, Watak Batman yang dibuat oleh Bob Kane dan penulis Bill Finger ini selalu diadaptasi dan alami pindah sarana audiovisual dari periode ke periode.

Beberapa artis sudah dipercayai untuk memainkan figur yang mempunyai senjata penghilang kejahatan super hebat ini, seperti Lewis Wilson (1943), Robert Lowery (1949), Adam West (1966), Michael Keaton (1989), Val Kilmer (1995), George Clooney (1997), Christian Bale (2005), Ben Affleck (2016), sampai Robert Pattinson (2022).

Sesudah Trilogi The Dark Knight usai, Batman kembali datang dengan watak dan nuansa narasi yang lain dalam film The Batman (2022) garapan sutradara Matt Reeves.

Berlainan dengan umumnya film Batman yang sama dengan live-action, Matt Reeves dipandang cukup berani untuk mengepak film ini di luar mainstream film superhero secara umum.

Ini kali Batman alias Bruce Wayne yang dimainkan Robert Pattinson dikisahkan sebagai figur yang psikis tidak konstan, melankolis, dan gloomy, tetapi di lain sisi beringas.

Ini disebabkan oleh trauma periode kecil saat dia harus melihat orangtuanya dibunuh oleh orang tidak dikenali yang lakukan tindakan kekerasan sebagai wujud protes pada pemerintahan kota Gotham.

Selainnya pembasi kejahatan, di film The Batman Bruce Wayne merangkap jadi detektif dalam pecahkan teka-teki yang dibikin oleh lawan intinya.

Berkaitan dengan topik detektif Reeves ternyatanya di inspirasi dari film garapan sutradara David Fincher seperti Se7en (1995) dan Zodiac (2007) . Maka Anda pasti rasakan atmosfer yang serupa saat melihat film The Batman ini.

Dari sisi latar (setting), Reeves mengilustrasikan Kota Gotham dengan colour grading warna gelap sebagai rimba beton yang muram, selalu mendung, patah semangat, kriminil, dan korup.

Ada figur antagonis, The Riddler alias Edward Nashton yang dimainkan oleh Paul Dano. Sebagai figur antagonis dia mempunyai daya magnet tertentu dalam jalankan visi jahatnya karena suka membuat teka-teki yang perlu diperpecahkan oleh Batman.

Menariknya, The Riddler sebagai watak yang perlu dalam plot penceritaan, khususnya dalam ungkap kejahatan beberapa penguasa dan wakil rakyat kota Gotham yang rupanya benar-benar korup, tetapi ditutup-tutupi.

Walau demikian, film memiliki durasi nyaris tiga jam ini banyak juga memetik kritikan dari fansnya, khususnya di watak Bruce Wayne.

Di komik Batman No. 4 (1990) Wayne pernah menjelaskan ke Robin tidak untuk membunuh dengan senjata apa saja. Tetapi di film ini dia malah menyalahi ketentuannya sendiri dengan lakukan tindakan pembunuhan beringas pada musuh-musuhnya di sejumlah scene.

Realita dan rumor sosial dalam Film The Batman

Sebagai salah satunya produk budaya terkenal, film benar-benar terkait kuat dalam kehidupan warga setiap hari (Dominic Strinati dalam Populer Culture: An Introduction to Theories of Populer Culture).

Walau sering dimengerti sebagai selingan oleh warga, di pada proses produksinya film ditanggung misi untuk memuat inspirasi warga dan memberi satu deskripsi pada sesuatu realita tertentu. (Haru Effendy, 2009, dalam buku Silahkan Membuat Film).

Dalam kerangka ini, Film The Batman pun tidak lepas dari beban arti yang erat dengan realita sosial kita, diantaranya:

Hiprokasi dan sikap korup beberapa penguasa

Figur antagonis sekalian lawan khusus Batman, The Riddler membunuh secara sadis beberapa petinggi utama di Kota Gotham, seperti Walikota Gotham Don Mitchell dan Beskal Agung Gotham Gil Colson.

Ke-2 nya dibunuh karena dipandang Riddler jadi orang yang hipokrit dan korup. Mereka selalu mencitrakan diri sebagai figur yang bagus di muka khalayak, walau sebenarnya mereka bertindak korupsi uang rakyat dan suka ke club malam punya Penguin yang ditujukan khusus untuk beberapa orang penting.

Di scene lain, ada figur mafia besar di Kota Gotham namanya Carmine Falcone yang turut serta dalam teori konspirasi dengan ayah Batman, Thomas Wayne. Keterkaitan Falcone dengan Thomas untuk menyogok reporter namanya Edward Elliot.

Elliot sukses ungkap bukti jika Martha, yang istri Thomas dan Ibu dari Bruce Wayne, rupanya terserang penyakit psikis.

Selanjutnya Thomas minta kontribusi Falcone untuk menyogok Elliot supaya tidak tuliskan hal itu pada media untuk rekam jejak karena mereka selalu mencitrakan diri ke khalayak sebagai keluarga yang serasi.

Karena tidak ingin terima suap, pada akhirnya Elliot dibunuh dan sesaat sesudah peristiwa itu Thomas Wayne dan Martha dibunuh orang tidak dikenali dengan pola pembunuhan yang tidak terang juga.

Perlakuan korupsi, sikap hiprokit, tindakan suap menyogok, dan politik pencitraan banyak ditemui di kehidupan sehari-hari.

Beberapa petinggi negara sering mencitrakan diri secara baik di ruangan khalayak untuk raih simpati dan tutupi sikap jeleknya dengan cara apa saja terhitung dengan hilangkan nyawa seseorang.

Rumor tertimpangan sosial dan eksperimen revolusi

Hal selanjutnya yang didatangkan dalam film ini ialah hal tertimpangan sosial yang tinggi sekali dan riil di Kota Gotham.

Ini bisa disorot dari figur The Riddler yang akui benci dengan kemunafikan beberapa petinggi kota.

Riddler ialah seorang yatim piatu yang dibesarkan dalam kemiskinan. Sesudah bergerak dewasa dia bekerja sebagai akuntan dan benar-benar memahami mengenai sangkut-paut keuangan di Gotham, terhitung kekayaan Thomas Wayne, ayah dari Bruce.

Dana yang ditujukan untuk rakyat miskin rupanya disalahpergunakan oleh elit Gotham untuk membuat bertambah diri kita hingga rakyat kecil jadi benar-benar menanggung derita.

Maka dari itu, kerusuhan dan tindakan protes yang terjadi di tingkat akar rumput dan pembunuhan beberapa elit yang sudah dilakukan Riddler otomatis jadi reaksi atas tertimpangan itu.

Tidak itu saja, diakhir narasi Riddler mengomentari Bruce Wayne yang dia anggap tidak sebagai wakil rakyat kecil khususnya anak yatim-piatu.

Walau Wayne yatim-piatu, tapi dia bergemilangan kemewahan dari kekayaan ayahnya.

Sementara itu, anak-anak yatim piatu secara umum tidak mempunyai orang-tua tapi juga hidup dalam kemiskinan dan harus share kamar dengan 30 anak yang lain.

Selainnya jadi kritikan pedas untuk Bruce Wayne, pengakuan Riddler ini sekalian mempertontokan begitu ketimpangan sosial di antara sang kaya dan sang miskin demikian jelas di Gotham.

Tertimpangan sosial dalam film ini bisa diterangkan lewat penglihatan Karl Marx mengenai kelas sosial. Menurut Marx (dalam Wirawan, 2013) keterkucilan dalam warga pascafeodal yang terdiri ke kelas proletar-borjuis disebabkan karena ekonomi.

Tertimpangan yang terlampau tinggi terus akan bersambung karena mereka berlindung di bawah kekuasaan dan bebatan ideologi seperti hukum yang sebetulnya diakali untuk kebutuhan kelas tinggi saja, hingga salah satu cara untuk akhiri ini semua dengan cara revolusi.

Perlakuan revolusioner itu dipertunjukkan oleh Riddler yang membunuh elit penguasa yang korup dan coba menenggelamkan Kota Gotham karena dia pesimis pada peralihan dan masa datang Gotham sepanjang penguasa hipokrit dan korup masih berkeliaran.

Michel Focault menerangkan jika setiap kekuasaan (power) ada selalu kekebalan karena kekuasaan tidak dapat memuat semua inspirasi.

Maka dari itu, tindakan protes keras warga dan rangkaian pembunuhan pada elit yang korup dan eksperimen revolusi dapat diartikan sebagai tanggapan pada kekuasaan itu.

Ringkasannya, bila negara dan beberapa penguasa melakukan tindakan korup, hiprokit dan ketimpangan sosial semakin meningkat, bisa jadi negara itu siap menjelma jadi Kota Gotham.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.