OR [rank_math_breadcrumb]

Angelina Sondakh: DPR di Zaman Saya Benar-benar Kotor

  • 2 min read
  • Apr 03, 2022

Bekas anggota DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Angelina Sondakh mengutarakan keadaan DPR RI saat dia memegang sebagai anggota Tubuh Bujet (Banggar).

Dia mengutarakan, di periode dia memegang, DPR ialah lokasi yang benar-benar kotor hingga benar-benar gampang lakukan korupsi.

Angie, demikian panggilan akrabnya, sebagai anggota DPR pada masa 2004-2009 dan dipilih kembali untuk masa 2009-2014, sebelumnya terakhir jadi terdakwa kasus suap Wisma Olahragawan SEA Game pada 2012 kemarin.

“Janganlah sampai ada yang persume saya menjelaskan itu ini hari. Semoga ini hari saya berharapnya bersih. Tetapi di zaman saya, DPR itu benar-benar kotor,” tutur Angie dalam interviunya dengan Rosi seperti diambil dari Youtube KompasTV, Minggu (3/4/2022).

Dia juga benarkan saat Rosi menanyakan kepadanya berkenaan begitu gampangnya seorang anggota DPR, khususnya anggota Banggar, menghasilkan uang dari beberapa proses perundingan.

Angie mengutarakan, semuanya orang yang terserang korupsi, tentu berhubungn dengan anggota Banggar DPR.

Tidak perlu cari sumber dana, banyak faksi akan cari anggota Banggar untuk membicarakan tiap bujet dari beberapa program pemerintahan.

“Semuanya orang yang terkena kasus korupsi itu tentu ada hubungan dengan anggota Banggar. Di mana semua penentuan bujet berada di situ. Gampang untuk bertransaksi, orang akan cari kita,” tutur Angie.

Angie diputuskan sebagai terdakwa kasus korupsi Wisma Olahragawan oleh Komisi Pembasmian Korupsi (KPK) pada 3 Februari 2012.

Penentuan Angie sebagai terdakwa ini berdasar peningkatan penyelidikan kasus sangkaan suap Wisma Olahragawan yang menangkap bekas Bendahara Umum Partai Demokrat, Muhammad Nazaruddin.

Sesudah lewat rangkaian persidangan, pada 10 Januari 2013 majelis hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta jatuhkan vonis berbentuk hukuman empat tahun enam bulan penjara pada Angie. Dia dijatuhi hukuman denda Rp 250 juta subsider enam bulan kurungan.

Majelis hakim memandang, Angie bisa dibuktikan lakukan tindak pidana korupsi dengan terima pemberian uang sebesar Rp 2,5 miliar dan 1.200.000 dollar Amerika dari Group Permai.

Vonis ini lebih enteng dibandingkan tuntutan beskal KPK yang minta supaya Angie dijatuhi hukuman 12 tahun penjara ditambahkan denda Rp 500 juta subsider enam bulan kurungan.

Dalam perjalanannya, pada tingkat kasasi Mahkamah Agung (MA) memberatkan hukuman Angie. Majelis hakim MA jatuhkan vonis 12 tahun penjara dan hukuman denda Rp 500 juta.

2 tahun berlalu, Angelina ajukan Inspeksi Kembali (PK) ke MA. Akhir 2015, MA merestui permintaan PK itu hingga vonis Angie dikurangkan jadi pidana penjara sepuluh tahun ditambahkan denda Rp 500 juta subsider enam bulan kurungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.