OR [rank_math_breadcrumb]

Ancaman Terawan Pernah Diundur Tahun 2018 sampai Referensi DIberhentikan dari IDI

  • 2 min read
  • Mar 28, 2022

Bekas Menteri Kesehatan Prof. Dr. dr Terawan Agus Putranto, SpRad(K) kembali memetik pro-kontra karena mendapatkan referensi dihentikan dalam keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Di tahun 2018, dokter Terawan sempat juga dihentikan sementara dari MKEK IDI terhitung 12 bulan semenjak 26 Februari 2018 sampai 25 Februari 2019.

Kabar berita Kompas,com pada Rabu (4/4/2018), Ketua MKEK dr Prijo Pratomo, SpRad ungkap, pemicu pemberhentian sementara dokter Terawan waktu itu ialah ada pasal Code Etik Kedokteran Indonesia (Kodeki) yang dilanggar.

Ancaman pernah diundur

Tetapi, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) tunda penerapan keputusan Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) yang jatuhkan ancaman pada Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Mayjen TNI Terawan Agus Putranto.

MKEK awalnya mereferensikan pemberian ancaman pada Terawan karena dipandang menyalahi kaidah kedokteran.

Ketua Umum PB IDI Prof dr Ilham Oetama Marsis, SpOG menjelaskan, keputusan itu disetujui dalam Rapat Majelis Pimpinan Pusat (MPP) PB IDI yang diadakan pada Minggu (8/4/2018).

“Rapat MPP putuskan jika PB IDI tunda melakukan keputusan MKEK karena kondisi tertentu. Maka dari itu, dipertegas jika sampai sekarang ini dokter TAP masih dengan status sebagai anggota PB IDI,” kata Marsis ke reporter, Senin (9/4/2018).

Marsis menerangkan, Terawan sudah mendatangi komunitas pembelaan yang diadakan PB IDI pada Jumat (6/4/2018). Menurut Marsis, komunitas pembelaan itu ditata dalam Pasal 8 ART IDI.

Menyalahi 2 pasal di tahun 2018

Ketua MKEK, dr Prijo Pratomo, Sp. Rad menyebutkan ada pasal Code Etik Kedokteran Indonesia (Kodeki) yang dilanggar.

Dari 21 pasal yang yang tertera dalam Kodeki, Terawan sudah meremehkan dua pasal yaitu pasal empat dan enam. Pada pasal empat tercatat jika “Seorang dokter harus menghindari diri dari tindakan yang memiliki sifat beri pujian diri”.

Terawan tidak mematuhi itu, dan kata Prijo, Terawan memasang iklan diri.

Walau sebenarnya, ini ialah kegiatan yang bertolak-belakang dengan pasal empat dan melukai sumpah dokter. Sementara itu, kekeliruan lain dari Terawan ialah berperangai yang berlawanan dengan pasal enam.

Bunyinya: “Tiap dokter harus selalu waspada dalam umumkan atau mengaplikasikan tiap penemuan tehnik atau penyembuhan baru yang belum dites kebenarannya dan pada beberapa hal yang bisa memunculkan kegelisahan warga”.

Terawan lulus gelar doktoral di Kampus Hasanudin di tahun 2016 dengan disertasi dengan judul “Dampak Intra Arterial Heparin Flushing Pada Regional Cerebral Blood Flow, Motor Evoked Potentials, dan Peranan Motorik pada Pasien dengan Stroke Iskemik Akut” dengan promotor dekan FK Kampus Hasanuddin yaitu Prof Irawan Yusuf, PhD.

Penemuannya ini diperkembangkan jadi therapy bersihkan darah yang memacu pembicaraan.

“Sebenarnya kami tidak mengganggu disertasi yang disodorkan Terawan, apa lagi Prof Irawan sebagai promotor,” terang Prijo.

Tetapi, penemuan hasil riset akademis yang hendak diaplikasikan pada pasien harus lewat rangkaian tes sampai pantas sama sesuai standard karier kedokteran.

Tidak berarti yang telah ilmiah secara akademis lalu ilmiah secara dunia klinis.

“Ada rangkaian tes medis melalui multisenter, pada hewan, in vitro, in vivo. Beberapa tahapan semacam itu harus dilakukan,” tambah Prijo.

Referensi penghentian Terawan dari IDI pada tahun 2022

Sekarang ini, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) memilih untuk mereferensikan penghentian keanggotaan Prof. Dr. dr Terawan Agus Putranto, SpRad(K) sebagai anggota IDI.

Penghentian Bekas Menteri Kesehatan ini ini berdasar referensi Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) IDI yang dibacakan dalam Kongres ke 31 IDI di Banda Aceh, Jumat (25/3/2022).

Ketua IDI Aceh Safrizal Rahman menjelaskan referensi penghentian Terawan dalam keanggotaan IDI sebagai hasil penilaian performa pengurus awalnya.

“Referensi penghentian dokter Terawan itu bukan produk baru saat kongres di Aceh, tetapi telah sama itu diulas di saat kongres lalu,” kata Safrizal saat diverifikasi Kompas.com lewat telephone, Sabtu (26/03/2022).

Menurut Safrizal, referensi penghentian Terawan sebagai hasil referensi di saat kongres di Samarinda pada tiga tahun kemarin, tetapi pengurus PB IDI awalnya tidak menyelesaikan hasil referensi itu.